Giving your child the best start in life
-
First Floor, 10A Chandos Street London New Town W1G 9LE
Get In Touch
Monday to Friday: 8.30am – 02.00pm
Saturday, Sunday: Close
Email: user@domainname.com
Phone: +44 (0) 207 689 7888
Monday to Friday: 8.30am – 02.00pm
Saturday, Sunday: Close
Email: user@domainname.com
Phone: +44 (0) 207 689 7888

Ikhtiar mencetak generasi berakhlak mulia terus diteguhkan melalui penguatan kompetensi pendidik yang mengajar dengan hati, disiplin metodologi, dan orientasi lillahi ta’ala.
SDMuhita.sch.id-Setiap pagi, para pendidik melangkahkan kaki menuju ruang-ruang kelas. Namun, pernahkah kita sejenak berhenti di depan pintu kelas dan bertanya kepada lubuk hati terdalam: “Untuk apa sebenarnya saya berada di sini?” Pertanyaan sederhana ini menjadi pemantik utama dalam rangkaian pelatihan pendidik Al-Qur’an metode Wafa bersama Dr. Dodi Tisna Amijaya, M.Pd.
Lewat pemaparan yang segar, menyentuh, dan sarat pengalaman nyata di lapangan, beliau membedah bagaimana seorang guru bertransformasi dari sekadar pengajar teknis kurikulum menjadi sang pencerah dan penyejuk—sosok matahari yang menerangi pikiran sekaligus meneduhkan jiwa anak didiknya.
Dr. Dodi membuka sesi dengan tamsil mendalam mengenai tiga orang tukang bangunan yang sama-sama sedang menyusun bata dan mengaduk pasir:
Tukang pertama memandang pekerjaannya sekadar rutinitas menguras tenaga, sehingga ia menjalaninya dengan rasa lelah dan kejenuhan.
Tukang kedua memandang pekerjaannya sebatas kewajiban profesional mencari nafkah untuk keluarga, menjalaninya secara datar dan apa adanya.
Tukang ketiga memandang pekerjaannya melampaui tugas fisik semata; ia menjalaninya dengan penuh syukur dan visi akhirat, sadar bahwa setiap bata yang ia susun adalah fondasi amal jariyah yang abadi.
Seorang guru sejatinya sedang membangun peradaban jiwa. Bila orientasi mengajar hanya sebatas jam dinas, energi kita akan lekas terkuras di tengah jalan. Mengutip nasihat K.H. Muhammad Syukri Zarkasyi, Dr. Dodi menegaskan bahwa jika seorang guru mendidik ikhlas lillahi ta’ala, pertolongan Allah dari arah yang tak disangka-sangka (min haitsu la yahtasib) pasti akan bekerja mencukupkan urusan hidupnya. Guru hadir membawa keteduhan, memadamkan kegelisahan, dan mencerahkan hari-hari anak didik di kelas.
Memutuskan mengajar Al-Qur’an hakikatnya adalah mendaftarkan diri menjadi “karyawan Allah”. Dan sebaik-baik penjamin hidup di dunia maupun akhirat adalah Allah SWT.
Dalam sesi motivasi, ditekankan pentingnya memisahkan antara ranah ikhtiar dan ranah hasil. Tugas guru hanyalah berikhtiar dengan kesabaran dan metode terbaik, sedangkan hasil dan keterbukaan hati anak sepenuhnya adalah hak prerogatif Allah. Ketika menjumpai murid yang lambat paham atau bersikap menantang, jangan terburu-buru menyalahkan sang anak.
Murid adalah cermin bagi gurunya. Layaknya seseorang yang melihat jilbabnya miring di cermin, yang pertama dibenahi adalah jilbab pada dirinya sendiri, bukan cerminnya. Esensi pelayanan terbaik (excellent service) seorang guru Al-Qur’an adalah memiliki kelapangan hati untuk menularkan kebahagiaan berinteraksi dengan kalamullah.
Masuk ke ranah pedagogi kelas, Dr. Dodi mengibaratkan proses transfer ilmu dengan konsep Quantum Learning. Guru berdiri di seberang sungai dan murid berada di seberang lainnya. Agar ilmu tidak hanyut terbawa arus deras, dibutuhkan jembatan penghubung yang kokoh bernama Apersepsi.
Apersepsi terbaik adalah yang mampu memuaskan AMBAK (Apa Manfaatnya BAgiKu) di dalam sanubari siswa. Anak-anak tidak akan tergerak menghafal jika mereka hanya merasa “ditagih setoran layaknya penagih utang”. Namun, ketika anak menyadari bahwa Al-Qur’an adalah sahabat terbaik saat bersedih, perisai pertolongan langit, serta mahkota kemuliaan bagi orang tua di surga kelak, motivasi belajar mereka akan bertransformasi dari keterpaksaan menjadi sebuah kebutuhan.
Media dan teknologi canggih hanyalah pelengkap (topping). Menu utamanya tetaplah interaksi nyata, tatap muka, buku panduan, dan keteladanan guru. Keseimbangan otak kiri dan kanan pun dibangun secara harmonis: tulisan mengaktifkan logika, sementara warna dan irama Hijaz mengendapkan hafalan ke dalam memori jangka panjang (long-term memory).
Sering kali guru merasa ragu memecah kebekuan (ice breaking), terutama di kelas-kelas tinggi, karena khawatir dianggap “seperti anak kecil”. Dr. Dodi meluruskan bahwa masalahnya bukan pada aktivitasnya, melainkan cara penyampaian dan kesiapan emosional siswa.
Ketika siswa merespons dingin, itu pertanda mereka belum merasa aman dan nyaman dengan kehadiran guru. Di setiap kelas, umumnya ada satu atau dua siswa yang menjadi influencer negatif—mereka yang bersikap defensif karena sejatinya sedang haus akan perhatian dan apresiasi. Dekati mereka secara personal, masuki dunianya, dan sentuh hatinya. Ketika hatinya telah luluh, ia akan berbalik menjadi pionir keriangan belajar bagi teman-temannya. Begitu pula dalam berkisah: sampaikan cerita fabel atau teladan dengan penjiwaan utuh, intonasi yang pas, serta akhiri dengan hikmah dan pesan moral yang nyata.
Sebagai panduan pembelajaran harian, metode Wafa mengusung tahapan sistematis 5P:
Pembukaan: Membangun koneksi lewat salam, sapa, doa, presensi gemar mengaji, hingga apersepsi yang menyalakan mimpi anak.
Pengalaman: Mengenalkan materi baru secara multisensori.
Pengajaran (Talaqqi Aktif): Guru memberikan teladan bacaan terbaik minimal pada 2 baris pertama, kemudian mengaktifkan siswa membaca mandiri pada baris-baris berikutnya. Bila ada kesalahan, latih siswa lain untuk menyimak dan menemukan kesalahannya terlebih dahulu sebelum dibenahi oleh guru.
Penilaian: Mengukur pencapaian harian secara berkala.
Penutupan yang Mengesankan: Memberikan apresiasi yang spesifik atas kemajuan teknis siswa, menampilkan progres capaian bintang, merawat yel-yel kebanggaan kelompok, dan mengakhiri kelas tepat waktu agar anak pulang membawa rasa bahagia.
Bagi kelas yang heterogen (memiliki beberapa tingkatan jilid dalam satu ruangan), sesi pembukaan dan motivasi tetap dijalankan bersama secara klasikal. Membaca bersama dapat dimulai dari jilid terbawah agar siswa di jilid atas dapat sekaligus memantapkan kembali makhraj dasarnya. Tolok ukur ketercapaian kelas disandarkan pada Program Semester (Promes), dengan diferensiasi koreksi yang proporsional: dampingi kelancaran anak yang lambat secara bertahap, dan perdalam keindahan makhraj serta irama bagi anak yang cepat.
Menjadi guru Al-Qur’an adalah sebuah jalan kemuliaan. Ketika kita memandang setiap siswa sebagai amanah berharga dari Allah, ruang kelas bukan lagi tempat formalitas yang melelahkan, melainkan taman-taman kebaikan tempat berseminya generasi berakhlak mulia.
Semoga setiap peluh, kesabaran, dan senyuman tulus yang terbit dari wajah para pendidik menjadi saksi amal jariyah yang abadi di hadapan-Nya kelak. Amin.